00:00:00
LIVE
BTC$65,420▲ +2.34%
ETH$3,180▼ -0.87%
BNB$412▲ +1.12%
SOL$172▲ +3.45%
XRP$0.6230▼ -1.23%
DOGE$0.1542▲ +5.67%
ADA$0.5120▼ -0.34%
DOT$8.91▲ +2.11%
BTC$65,420▲ +2.34%
ETH$3,180▼ -0.87%
BNB$412▲ +1.12%
SOL$172▲ +3.45%
XRP$0.6230▼ -1.23%
DOGE$0.1542▲ +5.67%
ADA$0.5120▼ -0.34%
DOT$8.91▲ +2.11%

Ketik lalu tekan Enter

📰

Jangan Ketinggalan Artikel Terbaru!

Dapatkan update seputar teknologi, tutorial, dan tips langsung di inbox kamu.

Gratis, bisa unsubscribe kapan saja

AWS Pangkas Biaya Jaringan Hingga 40% dengan Desain Router Data Center Baru Berbasis Teori Graf Acak

AWS Pangkas Biaya Jaringan Hingga 40% dengan Desain Router Data Center Baru Berbasis Teori Graf Acak

Di era digital yang kian masif, efisiensi energi menjadi kata kunci krusial, tak terkecuali bagi raksasa teknologi seperti Amazon Web Services (AWS). Baru-baru ini, Amazon sesumbar telah meluncurkan revolusi dalam desain routing di data center AWS yang diklaim mampu memangkas konsumsi listrik jaringan hingga 40%. Inovasi ini, yang mereka sebut Resilient Network Graphs (RNG), bukan sekadar klaim semata, melainkan hasil riset mendalam dari laboratorium jaringan AWS.

Inti dari pengembangan RNG adalah penggunaan jumlah fisik switch yang lebih sedikit namun dengan *throughput* yang lebih tinggi. Dibandingkan dengan arsitektur tradisional 'fat tree' yang mendominasi pusat data saat ini, RNG menawarkan efisiensi yang jauh lebih superior. Sejak April lalu, RNG telah menjadi arsitektur routing default untuk sebagian besar data center AWS yang baru dibangun.

Melampaui Keterbatasan 'Fat Tree'

Arsitektur 'fat tree', yang pertama kali populer di dunia superkomputer era 90-an, memang terbukti skalabel untuk kebutuhan bandwidth data center yang besar. Namun, seiring pertumbuhan ukuran data center, arsitektur hierarkis ini membutuhkan infrastruktur switch dan kabel yang semakin kompleks. Praktiknya, ini seringkali berujung pada pemangkasan biaya yang dapat menyebabkan kemacetan jaringan.

Di sisi lain, konsep topologi 'random graph' telah lama dibahas sebagai alternatif yang lebih efisien. Ide dasarnya sederhana: switch saling terhubung secara acak dalam sebuah jaringan datar, menghilangkan lapisan-lapisan hirarkis. Pendekatan ini tidak hanya lebih efisien, tetapi juga lebih toleran terhadap kegagalan, di mana hilangnya satu router tidak akan berdampak signifikan pada kapasitas keseluruhan.

Solusi "Quasi-Random" dari AWS

Tantangan utama dari topologi random graph murni adalah kerumitan kabel dan kebutuhan *routing table* yang sangat besar di setiap node. Di sinilah AWS melakukan terobosan dengan algoritma baru bernama 'Spraypoint'. Algoritma ini menggabungkan ide dasar random graph dengan sedikit sentuhan hierarki fat tree, menciptakan kompromi yang mereka sebut "quasi-random".

Secara sederhana, data 'disemprotkan' secara acak ke tetangga, memberikan banyak pilihan jalur menuju tujuan. Namun, saat paket mendekati tujuan, ia akan diarahkan melalui switch 'waypoint' menggunakan algoritma *shortest path* konvensional. Inovasi kunci lainnya adalah perangkat baru yang disebut 'ShuffleBox'. Perangkat ini mengkonsentrasikan kerumitan kabel yang biasanya dibutuhkan dalam topologi random graph ke dalam satu kotak, memungkinkan interkoneksi antar switch tanpa perlu kabel yang terlalu panjang.

Dampak Nyata dan Validasi Awal

Meskipun klaim efisiensi RNG belum diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga, fakta bahwa Amazon menjadikannya arsitektur default untuk sebagian besar data center baru memberikan validasi yang kuat. Data center quasi-random pertama telah beroperasi di dekat Dublin, Irlandia, sejak akhir tahun 2024, menangani lalu lintas produksi yang sesungguhnya.

Bagi pelanggan AWS, ini berarti infrastruktur yang lebih tangguh di balik setiap panggilan API, kueri database, atau pelatihan *machine learning*, tanpa perlu mengubah satu baris kode pun. "Bagi pelanggan, ini berarti infrastruktur yang lebih tangguh di balik setiap panggilan API, kueri database, dan pekerjaan pelatihan machine learning, tanpa mengubah satu baris kode pun," ujar para peneliti Amazon.

Potensi dan Keterbatasan

Ryan Ries, Chief AI and Data Scientist di Mission Cloud, sebuah konsultan dan MSP AWS, menyambut baik perkembangan ini. Ia menekankan bahwa performa daya dan air menjadi isu krusial bagi para penyedia cloud. "Klaim efisiensi ini kredibel karena AWS menyatakan RNG sudah berproduksi dan kini menjadi arsitektur default untuk sebagian besar pembangunan baru secara global," katanya.

Namun, sifat proprietary dari desain ini menjadi perhatian. Amruth Laxman dari 4Voice, penyedia layanan VoIP cloud, menambahkan bahwa ini membuktikan fitur graf acak dapat diintegrasikan ke dalam jaringan data center. Akan tetapi, karena AWS mendesain sebagian besar peralatan jaringannya sendiri, fleksibilitas desain ini menjadi pertanyaan utama. Biaya untuk mengadopsi redesign radikal semacam ini bisa sangat besar, dan AWS memiliki sumber daya untuk menyerapnya, tidak seperti banyak perusahaan lain.

Oleh karena itu, Amazon berencana hanya menerapkan RNG pada data center baru. Untuk saat ini, jangan berharap perusahaan lain akan segera meniru desain ini. Namun, ini adalah langkah maju yang signifikan dalam upaya industri untuk menciptakan pusat data yang lebih efisien dan berkelanjutan.

0 Komentar

Berikan Komentar Anda di Bawah Ini Sesuai Dengan Isi Artikel di Atas !